Thursday, December 1, 2016

Kesaksia Anak Pemimpin Hamas: Hanya Ada Satu Jalan ke Surga Yaitu Jalan Yesus yang telah Mengorbankan Dirinya Sendiri di Salib Untuk Kita Semua.

alisia nathania

Wawancara dengan Masab Yousef, anak dari Sheikh Hassan Yousef (Abu Masab) seorang pemimpin Hamas untuk West Bank. Sebelumnya ia aktif bertahun-tahun membantu ayahnya menjalankan organisasi Hamas. Ia adalah anak ke lelaki tertua, memiliki lima saudara lelaki dan dua saudari perempuan.

Sehubungan dengan wawancara ini, ia mengatakan, ”Saya tahu bahwa saya membahayakan kehidupan saya dan bahkan beresiko kehilangan ayah saya, tetapi saya berharap bahwa dia akan mengerti ini dan melalui itu Elohim akan memberikan dia dan keluargaku kesabaran dan keinginan untuk membuka mata-mata mereka kepada Yahshua dan Kekristenan.”

”Sebagai seorang anak, saya telah bertumbuh di dalam sebuah keluaraga yang sangat beragama, pada prinsip benci Israel. Di sekolah menengah saya belajar sharia, hukum Islam. Di tahun 1996, ketika saya hanya (berumur) 18, saya ditangkap oleh Tentara Pertahanan Israel karena saya ketua dari Masyarakat Islam di sekolah menengah saya. Itu adalah suatu pergerakan remaja dari organisasi tersebut. Dan proses kebangunanku dimulai.”

Apa yang telah terjadi?

Masab-Yousef: Sampai saat itu saya telah tahu Hamas melalui ayah saya, yang hidup sangat sederhana dan kehidupan yang indah. Pada pertama saya sungguh kagun pada organisasi (Hamas), utamanya karena saya sangat mengagumi ayah saya. Tetapi selama 16 bulan di penjara , saya dibukakan kepada wajah yang sebenarnya dari Hamas. Itu adalah organisasi yang buruk secara fundamental.” Ia bercerita tentang buruknya moral para anggota Hamas yang satu penjara dengan dia. Dipenjara ia menyaksikan sendiri bagaimana sesama anggota Hamas saling mencurigai: penyiksaan dan pembunuh bagian dari anggota Hamas (ini mengingatkan saya tentang mafia KGB, Sisilia-Itali dan Triad-Cina). Masab menyimpulkan orang-orang Hamas ini sebagai. “Orang-orang ini tidak punya moral.”

Keluarga-keluarga yang ditinggal mati oleh para pejuang Hamas diabaikan oleh para pemimpin Hamas dan terpaksa mengemis minta bantuan keuangan sementara para anggota senior menghabiskan puluhan ribu dollar perbulan hanya untuk keamanan mereka sendiri, katanya.
“Setelah pembebasanku, saya tidak percaya lagi kepada orang-orang yang mewakili Islam.”

Bagaimana kamu dibukakan kepada Kekristenan?

Itu dimulai delapan tahun lalu. Saya di Yerusalem menerima suatu undangan untuk datang dan mendengar tentang Kekristenan. Saya sangat tertarik apa yang telah saya dengar. Saya mulai membaca Alkitab setiap hari dan meneruskan dengan pelajaran-pelajaran agama. Saya lakukan itu sembunyi-sembunyi tentunya. Saya biasa bepergian ke bukit-bukit Ramallah, ke tempat-tempat seperti daerah dekat Al Tira, dan duduk disana dengan tenang dengan pemandangan yang menakjubkan dan membaca Alkitab. Ayat seperti “Kasihilah musuhmu” [dr Lukas 6:35] telah memiliki pengaruh yang besar atasku.

Sekarang saya melihat Elohim melalui Yahshua dan dapat bercerita tentang Dia berhari-hari sampai habis, dimana orang-orang Muslim tidak dapat berkata sesuatu tentang Elohim. Saya menganggap Islam suatu kebohongan besar. menghormati Muhammad lebih dari Elohim, mmembunuh orang-orang yang tidak bersalah di dalam nama Islam, memukuli istri-istri mereka dan tidak punya pemikiran apa Elohim adalah. Saya tidak mempunyai keraguan bahwa mereka pergi ke Neraka. Saya punya sebuah pesan untuk mereka: Hanya ada satu jalan ke Surga – jalan Yahshua yang telah mengorbankan dirinya sendiri di salib untuk semua kita.”

Sarjana geografi dan sejarah ini menambahkan, “Orang-orang Palestina, jika mereka tidak memiliki musuh untuk bertempur, akan bertempuh satu dengan lainnya.”

Tentang serangan bunuh diri, Di dalam budaya orang Palestina terroris bunuh diri adalah pahlawan, martir. Ia memberi contoh, “Seorang pria muda bernama Dia Tawil, pelajar. Bukan seorang Muslim yang ekstrim dan tidak radikal melawan Israel. Saya tidak pernah mendengar pernyataan yang ekstrim dari-nya. Dia tidak datang dari sebuah keluarga beragama. Tetapi Bilal Barghouti [satu dari beberapa pemimpin Hamas di West Bank] tidak perlu lebih berbulan-bulan untuk meyakinkan dia menjadi seorang terroris bunuh diri.“ (Tawil, 19, meledakan dirinya sendiri pada Maret 2001 dekat sebuah bus di Yerusalem, 31 orang luka-luka.)

”Mereka buta dan tidak perduli. Itu benar, ada orang baik dan jahat dimana-mana, tetapi para pendukung Hamas tidak mengerti bahwa mereka dipimpin oleh sebuah kelompok yang jahat dan sadis yang mencuci otak anak-anak dan membuat mereka percaya bahwa jika mereka melakukan serangan bunuh diri mereka akan pergi ke Surga. Tetapi tidak ada pembom bunuh diri akan menemukan diri-nya di sana (di Surga) dan tidak ada perawan-perawan menunggu mereka. Mereka tidak mengerti bahwa Islam diciptakan oleh orang-orang dan tidak oleh Elohim.

Banyak orang akan membenci saya untuk interview ini, tetapi saya ingin berkata kepada mereka bahwa saya mengasihi mereka semua, meskipun mereka membenci saya. Saya mengundang semua orang , termasuk para terroris di antara mereka, untuk membuka hati mereka dan percaya. Sekarang saya mencoba membangun sebuah organisasi internasional untuk orang-orang muda yang akan mengajar tentang Kekristenan, kasih dan damai. Saya ingin mengajar orang-orang muda bagaimana mengasihi dan mengampuni, sebab itulah jalan satu-satunya kedua Negara (Israel dan ‘negara’ Palestina) dapat mengatasi kesalahan-kesalahan masa lampau dan hidup dalam damai.

Sumber : https://senjatarohani.wordpress.com

4 komentar: