Rabu, 09 November 2016

Luar Biasa...!!! Seorang Muslim Fanatik Berani Murtad Dan Menjadi Pengikut Kristus, Inilah Alasannya

alisia nathania
Loading...
 muslim fanatik

Saya seorang Muslim keturunan. Seperti umumnya orang Islam, saya sudah belajar mengaji dan membaca Al-Quran sejak usia delapan tahun. Teman-teman memandang saya sebagai seorang yang sholeh dan taat beribadah. Saya juga tidak sungkan untuk menasihati teman-teman sebaya saya, agar mereka menjadi seorang Muslim yang fanatik seperti saya. Sehingga, kemanapun dan dimanapun kami berada, tidak boleh meninggalkan agama Islam.

Perjalanan tanpa tujuan

Waktu terus berlalu, dan saya pun lulus dari SMA. Suatu hari saya merenung dan mencoba memikirkan apa sebenarnya arti dari sebuah kehidupan. Saat itu saya merasa seperti orang yang tidak mempunyai tujuan dan merasakan satu kehampaan. Orang-orang di sekitar saya memang melihat saya sebagai orang yang baik. Tetapi mereka tidak tahu apa yang sedang saya rasakan dan pikirkan.

Dalam pergumulan yang berat, saya memutuskan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orang tua. Saya pergi tanpa tujuan dan perencanaan yang pasti. Tujuan saya adalah Pontianak. Perjalanan ke Pontianak saya tempuh selama tiga hari tiga malam dengan menggunakan kapal laut. Karena saya tidak mempunyai rencana perjalanan yang pasti, ditengah-tengah perjalanan saya semakin bingung apa yang saya lakukan di Pontianak.  Apakah saya akan tinggal di sana atau melanjutkan perjalanan ke daerah lain belum jelas.

Seorang Teman Mengajak ke Sintang

Di kapal saya berkenalan dengan penumpang lain. Dia berasal dari Banyuwangi. Dia menawarkan diri agar saya mau ikut bersamanya. Setelah mempertimbangkan ajakannya.  Akhirnya saya memutuskan menerima tawaran tersebut, dan mengikuti dia ke Sintang, Kalimantan Barat.

Walau saya telah menempuh perjalanan yang cukup jauh, tetapi saya belum menemukan tujuan hidup yang saya cari. Bahkan saya semakin bingung. Dalam kebingungan itu, sehari-hari saya tinggal di mesjid, membaca surat Yasin dan shalat tahajud (shalat malam hari) untuk mencari petunjuk Allah.

Teman Baru Seorang Guru di Gereja

Satu hari di Minggu pagi, ketika saya sedang berjalan-jalan, saya melihat anak-anak dengan seorang pria dewasa. Ternyata pria itu adalah pembina dari anak-anak tersebut. Pria itu menyapa saya. Saya mendekatinya. Ia bertanya apakah saya pergi ke gereja. Dengan sopan saya menjawab bahwa saya seorang Muslim. Pada pertemuan pertama itu, kami tidak banyak berbicara.  Dia harus mengajar anak-anak di gereja. Namun sebelum berpisah, kami membuat janji untuk bertemu sore hari.

Sore harinya, sesuai dengan janji yang sudah kami buat, kami bertemu kembali. Pada pertemuan kedua itu kami berbicara banyak hal, termasuk tentang Isa Al-Masih. Ia menjelaskan tentang pribadi Isa Al-Masih.  Saya sulit untuk mempercayainya penjelasannya, karena sejak kecil saya tidak pernah suka dengan orang Kristen.

Ajaran yang saya yakini sejak kecil adalah “ Dia [Allah] tiada beranak dan tidak pula diperanakkan ” (Qs 112:3).  Sehingga, bagi saya, sangat mustahil untuk mempercayai Isa Al-Masih sebagai Tuhan.
Kitab-13Siapakah Isa Al-Masih itu?

Walau saya tidak bisa mempercayai penjelasannya, tapi kami tetap berteman. Bahkan kami semakin sering bertemu. Dan setiap pertemuan itu kami selalu membahas tentang Isa Al-Masih.

Suatu hari, dia menawarkan saya untuk menginap di rumahnya. Saya setuju untuk tinggal di rumahnya, karena memang saat itu saya masih tinggal di Mesjid. Selama satu minggu saya tinggal di rumahnya. Di tempat ini kami bisa dengan leluasa berbicara tentang Isa Al-Masih, dan dia juga terkadang membacakan ayat-ayat dari Injil.

Saya masih ingat dengan jelas, hari itu saya bangun jam 4 pagi. Saya teringat dengan ayat yang pernah dijelaskannya untuk saya. Ayat-ayat yang menekankan bahwa Isa Al-Masih adalah Juruselamat manusia. “ Pada mulanya adalah Firman [Kalimat]; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. . . . Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran ” (Injil, Rasul Besar Yohanes 1:1, 14).

“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa [Allah], kalau tidak melalui Aku ” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).
"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu" (Injil, Kisah Rasul-Rasul 16:31).

Menerima Isa Al-Masih Sebagai Juruselamat

Pagi itu juga saya menangis dan mengambil keputusan untuk menerima Isa Al-Masih sebagai Juruselamat pribadi. Sejak saat itu, saya merasakan satu kelegaan dan damai sejahtera yang belum pernah saya rasakan. Serasa beban yang selama ini menghimpit telah diambil dari pundak saya. Kini saya tidak pernah khawatir akan kehidupan saya di dunia dan di akhirat. Karena saya telah menemukan apa yang selama ini saya cari, yaitu kehidupan kekal bersama Isa Al-Masih.
Sabda Isa, “ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu ” (Injil, Rasul Besar Matius 11:28)



Sumber : http://www.isadanalfatihah.com/kesaksian/seorang-muslim-fanatik-berani-murtad

6 komentar: